Rabu 19 januari 2011

Friday, January 21, 2011


Perlahan kubuka mata menatap langit-langit putih dikamarku, kulihat Yanda yang masih mendengkur keras disampingku, dengan tenanga pagi yang apa ada nya ku dorong badan kurus itu dengan kaki. Dengan berat hati aku paksakan untuk terbangun dari lantai yang dingin ini, aku tidak tahu apakah ini kebiasaan buruk atau tidak, aku selalu tidak bisa nyenyak untuk tertidur diatas kasur, kata bang Dila “gak bakat jadi orang kaya”, Cukup kocak kedengaran nya, tapi mau gimana lagi kalo itu sudah takdir yang diberikan.
Dengan langkah yang berat dan mata yang susah buat dibuka, aku berjalan menuju ruang makan, terlihat dua cangkir teh hangat buatan amak yang rutin setiap pagi berdiri diatas meja makan, perlahan aku duduk dibangku plastik merah itu, dan menyerut secangkir teh hangat yang dibuatin amak untuk aku dan Yanda.
Terlihat Yanda yang menghempaskan badan nya dibangku merah disampingku dan menidurkan kepalanya dimeja makan. “ada makanan mak ?” Tanya yanda dengan suara beratnya itu, sambil membungkuk dan merebahkan kepalanya dimeja makan. Tanpa memperdulikannya aku bergegas untuk mandi dan bersiap kekampus.

Kupacu terus laju motor bebek 125cc mengejar waktu untuk meletakkan sepatu futsal kesayanganku di rumah langit, rumah yang sengaja kami kontrak untuk tempat kami berkumpul satu kelas, apa lagi sekarang kami sedang menghadapi tugas akhir, dan dirumah itulah semua anak kelas TIA berkumpul untuk mengerjain tugas akhirnya masing-masing.  Setiap pagi sebelum kekampus rute utama yang aku lalui adalah rumah langit, rumah dimana para manusia cerdas berkumpul.
Polisi tua itu berdiri dipersimpangan lampu merah, mengatur macetnya laulintas pagi ini, anak sekolahan yang akan menyebrangi jalan terlihat menumpuk dipinggiran trotoar, asap kendaraan bermotor mencemari segarnya udara rabu pagi itu, ada juga anak sekolahan yang ngebut ngebutan dijalan yang padat itu.

Kuhentikan motor tepat didepan pagar rumah langit, gembok yang tidak dikunci tersangkut dipagar, terlihat motor wahyu parker tepat didepan garasi rumah, dan tentunya pasti wahyu sudah duluan sampai dikontrakan kami itu. Perlahan kubuka pagar besi itu dan kuparkirkan motorku disamping motor wahyu dan aku masuk melalui garasi.
Keadaan rumah sangat sepi, dan tidak ada seorangpun yang menjawab salamku, kubuka sepatuku dan masuk kekamar utama, tepatnya kamar Abrar dan Kurnia, dua makhluk itu masih terkapar pulas dikasur masing-masing, kulihat jam waktu sudah menunjukkan pukul tujug, dan aku sadari itu sudah telat. Bergegas aku bangunkan mereka, “kita gak jadi masuk” jawab kurnia dengan suara kayak orang mabuk. Kesal rasanya ketika mendengar berita duka itu, walau dihati kecil aku merasa senang, sedikit kurang yakin, aku ambil hp dan kutelpon yayay, mana tau dia sudah ada dikampus, dan ternyata dia pun juga baru tau kabar itu, apa boleh buat lagi, dengan sedikit menenangkan diri dan merasakan perut yang keroncongan akibat belum sarapan, aku buka kamarku, dan kumasuki kamar terkecil yang ada dikontrakan itu.
Kurebahkan badan sejenak sambil menikmati sambaran angin dari kipas angin dikamarku, perlahan aku kembali bangun dan pergi kebelakag kontrakan, terlihat si Wahyu lgi berbaring sambil internetan dikamarnya, kamar yang seperti kapal pecah menurut kami semua. Aku kembali memasuki kamarku dan meletakkan laptop intel atom yang tak seberapa itu dimeja kamar, dan mendengarkan beberapa lagu dipagi hari yang cerah ini dan tentu nya internetan sambilmenunggu jam 12 untuk maen futsal bersama anak anak rumah langit.

Sepuluh orang dalam lapangan futsal dan tanpa pemain cadangan, Abrar yang seteam dengan Julenk, Juli, Ijal dan Ari sebagai kipper nya melawan team aku yang berangotakan Efan, Bichan, Bobi dan Kurnia sebagai kipper.  Kick off pertama dari Efan langsung mencetak goal digawang Ari, permainan yang seru itu berlangsung dengan penuh canda tawa dan teriakan teriakan dari Juli. Dalam menit menit akhir pertandingan terlihat Bichan terkapar ditengah lapangan sambil memegang betis nya, badan yang berlumuran keringat itu memerah menahan sakit dibetisnya, Ijal yang berusaha menghilangkan sakit dibetis Bichan. Beberapa lama kemudian Bichan yang pincang itu berganti posisi dengan Kurnia kan kami melanjutkan permainan itu.

Panasnya cuaca siang itu seakan menguras semua keringat dari badanku, dengan sisa tenaga yang ada aku gas motorku dan berjalan menuju rumah langit, menjelang kerumah langit aku berhenti disebuah mini market untuk membeli sebotol air mineral dingin.
Setelah meneguk sebotol air dingin itu aku kembali melanjutkan perjalanan kerumah langit kesayangan kami. Dikontrakan sudah ada Robi yang duduk sendiri menunggu kami pulang main futsal, Robi tidak menyukai olah raga yang berbau bola kaki, ntah mengapa aku tidak tahu apa yang ada difikiran anak itu.
Kumasuki kamarku dan duduk sambil berkipas, seakan serasa disurga diterpa angin seperti itu, terdengar suara mereka semua membahas tentang permainan futsal tadi, ada yang mengejek dan menertawakan kejadian singkat itu. Kurebahkan badan ku dan memejamkan mata sejenak, tidak lama kemudian terdengar suara efan berpamitan pulang.

                Kepalaku terasa sakit sekali, dunia seakan berputar, kurebahkan badanku sejenak dan kulihat langit-langit kamarku terasa berputar, samar-samar kudengar suara Julenk mengajakku kelapangan bola untuk melihat pertandingan antara anak computer dan anak elka, namun kutolak ajakan itu karena kepalaku terasa berat dan sakit sekali.
                Kudengar suara motor mereka pergi dari kontrakan, aku sadar bahwa mereka sudah pergi dari kontrakan untuk melihat pertandingan itu. Kupejamkan mata sehingga hanya kepalakulah yang terasa berdenyut seakan mau pecah.

                Sayu-sayu kudengar suara Ijal memanggilku, aku baru sadar bahwa aku ketiduran, kulihat jam sudah menunjukan waktu jam setengah tujuh, aku baru teringat kalo itu sudah saatnya aku pulang kerumah, dengan kepala yang masih berdenyut itu aku bereskan semua barang-barang yang akan aku bawa pulang.
                Perlahan aku gas motorku dengan pandangan yang sedikit buram, aku Cuma bisa berharap kepada Allah untuk melindungi aku selama diperjalanan pulang.

0 comments:

Post a Comment

 
 
 

slide foto