24 januari 2011

Tuesday, January 25, 2011

Kuhentikan motorku dan kugantungkan helm biru tua itu dikaca spion, kulangkahkan kaki dengan semangat menuju ruang pak Dadang dosen pembimbing keduaku. “pagi pak..!!” kusapa janitor tua itu, seorang janitor yang kurasa paling ramah dikampus hijau ini.

Kuhentikan langkah tepat didepan pintu ruangan pak Dadang, perlahan kuberi tiga ketukan dipintu ruangan itu, dengan sopan dan hati-hati kubuka pintu kayu itu dan kulihat pak Dadang yang lagi terduduk disinggasana nya. “loh,, kemana aja kamu sebulan penuh ini..” ujar pak Dadang dengan suara lantang nya.

Kuhela nafas panjang setelah hamper 30 menit didalam ruangan itu, kembali kulangkahkan kaki menuju lantai tiga, kembali aku bertemu bapak janitor itu dan kembali lagi aku sapa ramah beliau. Perlahan aku naiki tangga itu, tangga yang sudah hampir empat tahun aku lalui dengan memeras keringat, namun tidak sedikitpun mengurangi lemak dibadanku. Berdiri sambil memegang kedua lututku denga nafas yang ngos-ngosan, kulangkahkan kaki keruangan buk Uli, kulihat ruangan itu kosong dan tidak ada orang satupun didalamnya, dilorong itu aku bertemu dengan pak Ibnu, “ngapa put..” sapa bapak itu dengan ramah, “gak ada pak, saya Cuma mau nyari buk Uli”,, “owh dia ngajar” jawab pak Ibnu yang langsung memotong ucapan aku tadi.

Dengan langkah yang sedikit kecewa kulangkahkan kembali kakiku menuju parkiran motor, kulihat sosok yang tidak asing lagi diujung lorong sambil melambaikan tangan nya kearahku, ternyata itu si Robi yang pagi itu sedang menjadi supervisi dengan pak Memen.

Seperti rutinitas kegiatanku, rumah langit adalah tujuan utama dari setiap rute kerumbai. Kubuka kamarku tercinta, dan kurebahkan sejenak badanku dikasur sambil mengingat kejadian yang belun beberapa jam aku lewati. Kusandarkan badanku ditembok sambil mengeluarkan dan menyusun laptopku dimeja lesehan kamarku, apa lagi kalau bukan online yang akan aku kerjakan sambil menunggu jam masuk nanti.

Terdengar suara dari seorang teman yang gak asing lagi ditelingaku, “putraaaaa…putraaaaa”  perlahan kubuka mata, kulihat wajah orang itu tepat didepanku, ternyata si Wahyu sedang membangunkan tidurku, kulihat jam sudah menunjukkan waktu setengah tujuh, dan kutenangkan diri sejenak  sambil mengumpulkan nyawa yang berserakan ketika aku tertidur.

Terdengar suara ricuh dari kamar Abrar, dengan langkah lemah sehabis bangun tidur aku melangkah kesana, ada  Robi, Abrar dan kurnia yang sedang asik bercerita, aku nimbrung disana, ternyata mereka membahas masalah traktirran dari Bowo, dan tidak lama kemudian pun Bowo ikut serta disana, kami berencana untuk makan malam bareng diluar, dan ditraktir oleh Bowo. Para penghuni rumah langit pun bersiap siap untuk pergi makan malam bareng dikota.

Enam motor meluncur ketempat tujuan, dan rumah langit pun ditinggal kosong untuk beberapa jam saja, demi traktiran dan perut kenyang kami rela menempuh perjalanan yang bisa dibilang jauh untuk makan malam. Sesampainya ditujuan satu meja panjang kami yang kami ambil alihpun mulai memenuhi area tempat makan itu, sebelas orang yang kelaparan duduk berjejer seperti anak panti yang sudah tidak sabar lagi melahap jatah mereka masing masing.

Makan-makan pun selesai dan kami masih duduk disana ngobrol seputar keadaan rumah kita, ada Julenk yang cool sedang merokok, ada si Wahyu yang diam seribu bahasa, ada Freza dan Kurnia yang sedang meniup teh talua pesanan nya.

“wok aku duluan yaa, mobil sayang aku masuk parit..” ujar Awe dengan tergesa gesa sambil bersiap untuk meluncur ke tkp. Awe pun dengan berboncengan dengan Ari langsung tancap gas menuju tempat mobil pacar Awe yang masuk parit itu.

Dengan jiwa tenggang rasa dan setia kawan serta memiliki jiwa kepahlawanan yang cukup tinggi, Bowo, Wahyu, Anggi, Robi, Julenk, Freza dan saya sendiri ikut meluncur mengejar Awe dan Ari untuk membantu Awe menolong pacar tersayang nya itu. Laju motor-motor kamipun serasa berlari diarena balapan menuju tempat kejadian itu, macet dan ramainya jalan kami lalui dengan penuh semangat demi mengejar kedua teman kami itu, maut yang siap menerkam kami pun seakan tidak kami hiraukan dia mengaum didepan kami, itulah semangat TI A dalam hatiku berbisik dan tersenyum disepanjang jalan. Diperjalanan akhirnya kami bertemu dengan Awe dan Ari, ternyata mereka belum bertemu dengan pacar nya Awe, kami pun bersama mencari dimana lokasi kejadian itu, jalan becek dan berbatu itu mengguncang motor kami semua, minyak yang sudah menipis mulai berkedip, aku tidak tau apa yang harus lakukan jika minyak itu habis ditempat yang gela, berbatu dan becek ini.

Setelah beberapa lama kami berkeliling daerah asing itu, akhirnya Awe berhasil menemukan lokasi kejadian, dan TERNYATA!! Kami telat, mobil yang masuk keparit itu sudah berhasil dibawa keluar oleh warga setempat , ucapan seribu maaf dan terimakasih dari Awe  dan pacarnya pun terlontar kepada kami semua.   Kesyaaaaaaalll.. tapi kami bangga pada diri sendiri aku yakin itu.

0 comments:

Post a Comment

 
 
 

slide foto