29 januari 2011

Saturday, January 29, 2011


Rintik hujan yang belum berhenti sejak tadi malam membuat ngaret jadwal bersih-bersih rumah kontrakan kami, terus terang sebenarnya aku gak enk hati sama anak-anak kontrakan sebab, kemarin aku yang bersuara besar mengajak mereka untuk bersih-bersih bagian belakang rumah kami, mulai dari dapur, teras belakang, dan kamar mandi belakang.


Kata Awe teman-teman Nony pacarnya Awe mau main kekontrakan kami kalau sector belakang rumah kami sudah dibersihkan, memang sih bagian belakang rumah kami itu bisa dibilang jauh dari kebersihan, mulai dari tumpukan piring kotor siap makan yang tidak dicuci, lantai yang sudah menguning, kain-kain kotor yang berserakan dilantai sampai kamar mandi yang sudah tebal oleh lunau-lunau dilantai dan dinding nya, belum lagi pasir dan tanah yang jarang disapu.

Mengajak anak-anak kontrakan membersihkan rumah, bukan aku lakukan agar teman-teman Nony datang kekontrakan kami, aku cuma mengambil poin penting dari apa kata Awe kepadaku, Awe pernah bilang  “mereka mau main kesini kalau bagian belakang rumah sudah dibersihkan”, dari perkataan mereka yang seperti itu aku menyimpulkan kalau rumah kami kurang nyaman untuk dijadikan tempat bertamu khususnya para wanita, mereka mungkin merasa jijik melihat kontrakan yang bisa dibilang tidak menomor satukan kebersihan, mungkin sebagian orang bilang wajar aja kalau yang tinggal didalamnya cowok, jujur aku kurang setuju dengan pendapat seperti itu, aku berpendapat cowok ataupun cewek itu harus tetap memperhatikan kebersihan tempat tinggal, walaupun itu kost atau kontrakan.

Hari sudah menunjukkan pukul 12:43, aku sadar kalau aku sudah ngaret tiga jam lebih, apa lagi kalau mengingat apa kata Bowo padaku semalam “jangan hanya ngomong aja yaa!!”, sedikit tersinggung sebenarnya aku mendengar ucapan itu, tapi emang begitulah keadaan sebenarnya, beberapa orang disini terkadang hanya bisa bersuara saja, tetapi tidak membuktikan apa kata yang terucap dari mulut nya masing-masing, tapi mau gimana lagi kalau cuaca hari ini tidak mendukung. Jam satu lebih hujan baru mulai reda, namun masih ada gerimis tanggung yang blom bisa berhenti membasahi bumi.

Berharap tidak hujan lebat dirumbai, aku paksakan diri menembus gerimis tanggung siang itu, dipersimpangan jalan rumahku, kulihat mobil papaku menuju rumah, aku yakin kalau papa datang untuk menjemput yanda dirumah. Perjalanan menuju rumah langit itu serasa didaerah bandung, rumbai yang gersang dan panas itu pada hari ini terasa dingin sampai menembus tulang, membuat badanku menggigil walaupun sudah menggunakan jaket.

Kulihat dari balik kaca garasi kontrakan, Awe sedang berdiri melihatku yang baru datang. Mingkin dalam fikirannya membahas tentang kedatanganku yang ngaret. Kulihat Julenk sedang sibuk online sambil bernyanyi dikamarnya, dan Bowo sedang tiduran sambil online dikamarnya, sejenak aku hirup nafas lega dan meletakkan tas laptop dikamarku.

Cukup kaget dan sedikit gak enak hati, kulihat kain kain yang berserakan sudah hilang dilantai sector belakang, kulihat kain kain menjijikkan itu sudah terkumpul didalam pelastik besar disudut ruangan, “tadi Abrar yang bersihkan” kata Awe sambil berdiri dan bersandar dipintu belakang rumah kami. Jujur aku jadi gak enak dengan Abrar yang kerja sendirian membersihkan kain kotor dibelakang, kuangkat kain kotor itu dan kubuang dibakaran sampah, kulihat dapur dan piring kotor yang belum tercuci, tanpa fikir panjang aku langsung membersihkan dapur, mulai dari mebersihkan dinding dapur dan perabotannya, serta mencuci beberapa piring dan sendok yang terletak didalam tempat cucian itu. Tidak beberapa lama kemudian kudengar suara Abrar, dia pasti baru pulang. Setelah membersihkan dapur Julenk mengajakku membeli sikat lantai dan pembersih karbol yang keras untuk menghilangkan noda dilantai dan kamar mandi belakang.

Karbol disemprotkan rata disepanjang lantai yang berlumut itu, karbol yang sangat keras itu membuat lumut langsung memutih dan lunak. Dinding yang mulai menghijau juga berbusa dibuatnya, setelah kusemprotkan kabol disepanjang sector belakang, kami dimakan beberapa saat.

Julenk mulai menggosok lantai keramik itu, noda kotor dikeramik itupun langsung hilang akibat karbol yang aku siramkan tadi, kulit kaki yang mulai terasa pedih pun kami cuekin demi membersihkan lantai belakang rumah, tak lama kemudian Abrar datang dan ikut membantu kami berdua, Abrar yang langsung mengmbil sapu yang sudah kaku itu untuk membantu Julenk dan aku untuk mebersihkan lantai belakang.

Lantai belakang rumah mulai putih kembali, karena bagian lantai belakang udah mulai bersih, aku tinggal kan mereka berdua mebersihkan lantai itu, lalu aku pergi kekamar mandi belakang dan kembali menyemprotkan karbol tajam itu keseluruh area kamar mandi belakang, dan aku diamkan untuk beberapa menit agar karbolnya menyebar.

Setelah karbol dikamar mandi menyebar mulai aku bros kamar mandi dibagian bak mandi dan seputaran wc nya, limut yang menghitam itu pun mulai hilang dari kamar mandi, tak lama kemudian Abrar menyusulku kekamar mandi dengan tongkay pembersih lantai. Kulihat keluar bagian belakang rumah kami sudah putih kembali, terlihat Julenk sedang menyiram lantai yang telah dia bersihkan.

Kamar mandipun sudah bersi kembali, bagian belakang rumah kamipun sudah putih kembali, sector belakang rumah sudah dibersih kan semuanya, mulai dari dapurm lantai belakang, dan kamarmandi sudah wangi dan bersih kembali. Abrar datang dengan membawa tangga dan meletakkan ditengah tengah lantai belakang. Kulihat Bowo datang sambil memegang tangga yang dinaiki Abrar, atap daerah belakang yang bergeser membuat air hujan masuk dan membasahi sector belakang rumah kami, itulah yang diperbaiki Abrar, sekalian juga dia membersihkan lumut yang ada diatap itu bersama Bowo.

Papaku datang kekontrakan, dia mengantarkan sebungkus gorengan untuk kami yang ada dikontrakan sore itu, hari sudah menunjukkan pukul 16:45, kami berencana ingin nonton final bola pcr cup dilapangan politeknik. Kuletakkan gorengan dimeja bundar ruang keluarga. Kudatangi saudara saudaraku yang sedang bekerja dibelakang, ternyata atap juga sudah mereka bersihkan.

Setelah membersihkan tangan dan kaki, kami berempat istirahat dan duduk diruang keluarga untuk menyantap gorengan yang diantar papaku kekontrakan. Belum beberapa menit kami siap membersihkan bagian belakang rumah, Robi baru datang kekontrakan, “pas kali biiiii!!!!” ujar Bowo dengan irama sedikit kesal. Robi tidak mengetahui kalo hari ini ada gotong royong membersihkan halaman belakang, seandainya dia tahu pasti dia datang tepat waktu, begitulah biasanya.

“KreeeeKKK!!” suara aneh terdengar disaat kami sedang asik duduk sambil makan gorengan, “suara apa tu..?” Tanya Robi  kepada kamu semua. Kulihat kebawa ternyata celanaku sobek, cukup memalukan sebenarnya moment seperti itu, gak lama kemudian aku pulang untuk mengganti celanaku, dan gak mungkin kalo aku pergi kelapangan bola dengan celana sobek.

6 comments:

theSignBRO said...

gmn klo hari sabtu kita buat jadwal gotong royong? :D

Putra said...

tu dia yang mau aku bilang.. tiap sabtu kita bersih2 rumah langit...

salam knal n follow bck yach!!

Putra said...

iyaa ima makasih banyak yaaa

dunia jijah said...

pasti kotor bget kan....
hahhahaaaa

Putra said...

apa nya yg kotor,, hahaha

Post a Comment

 
 
 

slide foto