27 januari 2011

Friday, January 28, 2011


Hujan dipagi hari serasa hari kebebasan bagi anak kontrakan, melanjutkan tidur panjang pasti mereka lakukan dengan senang hati. Tapi bagiku hujan dipagi ini beda, hujan dipagi ini membuatku emosi, sebab aku sudah terlanjur janji sama pak Dadang dan buk Yuli untuk bimbingan proposalku. Besok tanggal 28 januari adalah batas akhir pengumpulan proposal, mau tak mau aku harus menerjang badai demi proposalku ini, atau dengan pilihan lain, ulang tahun depan.

Dinginnya udara pagi itu kuterjang hujan hujanan, disepanjang jalan, air hujan yang menembus celana jeans biru itupun mulai merembes kekulitku, namun aku tidak memperdulikan itu, demi proposal yang sudah mepet waktunya itu aku paksakan tenaga pagiku itu kekampus untuk bertemu sang pembimbing.
Kuhentikan motor diparkiran kampus, kulihat celana dan jaketku pun sudah basah, untung saja tidak tembus sampai kebajuku, sejenak aku usapkan air yang ada dicelanaku sehingga menjadi lembab, perlahan dengan mengkibaskan celanaku aku berjalan menuju ruang pak Dadang, terlihat beberapa mahasiswi berlari dengan jas lab menutupi kepalanya.

“bang puput..” sapa seorang gadis manis terdengar dari arah belakangku, kulihat kebelakang ternyata salah seorang junior menyapaku, gadis yang cukup manis dan beda dimataku, namun itu cuma sekedar rasa kagum saja, “mungkin”.

Kami bersamaan sampai didepan ruangan itu, ketika aku sampai, pas didepanku pak Dadang juga baru sampai dan lagi membuka kunci ruangan nya. “ontime terus ya kamu..” kata pak Dadang sambil melihat kearahku. Ucapan itu sedikit membuatku merasa semangat dipagi itu, hujan badai yangkulalui itu seakan terobati oleh kata katanya.

Dingin nya ac diruang pak Dadang menembuh tebalnya celana tebalku itu, dikarenakan celanaku masih basah oleh air hujan tadi. Ternyata masih ada beberapa revisi lagi dari pak Dadang, padahal aku berharap hari ini semua proposalku sudah selesai dan tinggal ngumpul besoknya.

Keluar dari ruangan pak Dadang bukanya lega, malah menambah fikiran, kulanjutkan rute selanjutnya, ruangan buk Yuli, kuharap disana tidak dikasi revisi lagi, kutelusuri lorong gelap ruangan mekatronika itu, tanpa sengaja kulihat si junio manis yang menyapaku dipagi itu lewat  melintas didepanku, sejenak aku terdiam dan langkahku  semangkin memelan, suara hujan diluar seakan hilang seketika, melihat dia melintas didepanku, tapi sayang nya dia tidak melihatku disini. dalam hatiku berkata “ingat put, kau sudah ada pacar!!” dan ketika dia menghilang dibalik tembok itu ketika itu pula semua terasa normal kembali.

Kuketuk pintu itu tiga kali dan kumasuki ruangan dingin itu, kembali aku merasa kedinginan akibat celanaku yang basah. Kulihat buk Yuli sedang sibuk merapikan beberapa kertas diatas mejanya. “pagi buk..” kusapa ramah dan langsung menghampiri nya, dya langsung menyuruhku duduk disampingnya dan memeriksa proposalku.

Hujan tak kunjung berhenti, aku berdiri dilorong kampus, menyendiri dambil memikirkan beberapa revisi yang diberikan oleh pak Dadang dan buk Yuli, aku harus menyelesaikan proposal ini hari ini juga, sebab besok sudah batas akhir pengumpulan proposal itu, aku tidak mau kalau harus maju diperiode depan, sudah cukup banyak waktu terbuang untuk mengerjakan tugas akhir ini.

Akhirnya hujan yang mulai reda, kunekatkan diri untuk melalui hujan itu, rintik hujan mulai membasahi kemeja hitamku, proposal yang memenuhi kepalaku pagi ini membuat hujan tak terasa dingin lagi, sejenak aku singgah untuk membeli bubur ayam didepan kampus, perut yang belum diisi ini sudah mulai berontak meminta jatahnya, setelah itu aku lanjutkan kembali perjalanan menuju rumah langit.

Kulihat motor Robi sudah ada dikontrakan, kuparkirkan motorku disambing motor Robi. Kubuka pintu kamarku dan langsung merebahkan badan dikasur, dalam kepalaku cuma ada proposal dan proposal.
Terkadang aku memikirkan Rini pacarku, kasihan dia karena sudah hampir seminggu ini aku cuekin, namun aku beruntung punya pacar pengertian seperti dia, tak pernah nuntut apa-apa dariku, dia hanya mau aku bisa jaga diri baik-baik dan selalu memberikan kepercayaan padaku, aku harus bisa menjaga kepercayaan yang diberikan Rini padaku, “amin”.

Waktu sudah menunjukkan pukul 14:30, revisi proposal yang diberikan kepadaku sudah kkupaksa siap hari itu juga, aku bersiap siap untuk menemui kedua pembimbingku itu, kulihat Ijal dan Julenk juga sedang bersiap siap, namun aku berangkat duluan kekampus, aku takut pembimbingku tidak ada diruangan nya.

Kuparkirkan motorku diparkiran depan kantin, karena parkiran itulah yang terdekat dari ruangan pak Dadang. Kulangkahkan kaki agak cepat memasuki kampus, kulihat ada Wulan anak jurusan D3 sedang menunggu dosen pembimbing nya, Wulan telat satu tahun, teman-teman angkatan nya sudah pada wisuda tahun kemarin. Kuketuk pintu ruang pak Dadang tiga kali, dan ternyata ruangan nya terkunci, dan berarti dia tidak ada diruangan nya.  Namun tanpa mikir panjang aku langsung menuju ruang buk Yuli dilantai tiga.

Kulihat ada Fadli sedang menunggu pembimbing nya, dia sudah hamper dua bulan tidak menghadap ke pembimbing nya, dan sekarang sehari sebelum batas akhir, dia baru datang menunjukkan batang hidungnya dikampus, aku gak tau apa yang akan dikatakan pembimbing nya, yang jelas dia pasti habis diceramahin si pembimbing. Kulihat buk Yuli sedang mengajar dilab, dengan terpaksa aku tunggu dia didepan lab tempat dia mengajar.

Dengan perasaan sedikit lega, aku kembali kekontrakan, proposalku sudah disetujui oleh buk Yuli, tinggal pak Dadang saja yang belum jelas apa pendapatnya dan keputusannya.
Kulihat Abrar dan Robi sedang menyusun berkas buat dikumpulkan, ternyata mereka sudah siap untuk mengumpulkan proposal nya kepada kordinator PA.

Waktu sudah menunjukkan pukul 21:45, malam itu hujan kembali turun, aku Ijal dan Awe duduk diruang keluarga, terlihat Ijal sedang mengerjakan revisi proposalnya, dan juga Julenk yang senasib dengan Ijal mengerjakan revisinya dikamar, sedangkan Awe sibuk dengan dunia maya. Mata mulai berat rasanya, badan mulai melemah, dan akhirnya aku bersiap untuk pulangkerumah. Tanpa memikirkan hujan turun, aku nekatkan diri untuk menerjang badai kembali, dan dengan terpaksa pulang pergi kulalui dengan menerjang badai.

0 comments:

Post a Comment

 
 
 

slide foto